Selamat datang di Kawasan Penyair Sumatera Utara Terima kasih atas kunjungan Anda

Jumat, 04 Maret 2011

HERNI FAUZIAH, S.Pd


HERNI FAUZIAH, S.Pd lahir di Medan,5 April 1964. Alumni Unsyiah dan Unimed Medan ini walau disibukkan mengajar di SMK Neg.8 Medan namun selalu aktif mengikuti perkembangan kesastraan Indonesia dan menulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan cerita rakyat banyak dimuat di harian Waspada, dan finalis reguler dan finalis Program Khusus LMCP 2005 dan 2006. Pernah ikut sayembara penulisan buku pengayaan ( 2011 ) oleh pusbuk kemendiknas jakarta berupa kumpulan puisi.


DAUN GUGUR TEPAT WAKTU
untuk sahabatku Antilan Purba

Saat itu dua empat tengah malam
gugur satu nama dalam catatan daun tahun dua nol satu satu
tertulis namamu jelas
pasti
tak ada keraguan

banyak kisah sudah tergores
yang kontemporer dan yang romantis
bahkan pernah kau bilang
itu namanya prosa liris

banyak yang masih dalam catatan harian
tertinggal
terserak
terselip-selip
dalam tas hitam usang

selamat jalan sahabat
kau jalan perlahan
berbekal lembaran catatan harian
nanti aku di persimpangan terakhir


PERMINTAAN

Ada banyak yang ingin kusampaikan
ketika bertemu di simpang terakhir
kau bawakan aku sapu tangan bersulam emas
namun kau hanya diam
dan tak bilang apa-apa

kita sama berpaling berbalik arah
kusimpan dalam genggaman sapu tangan bersulam itu
kusurukkan dalam-dalam ke sudut hati
sampai tengah malam
berlalu

hanya satu permintaanku
titipkan aku pada bulan
agar ku tenang dalam bayang-bayang malam


PAMIT

Hari ini tugasku telah selesai
catatan harian di lembar terakhir
goresan tinta sudah kelabu warnanya
puisipun kehabisan kata- kata

pamit aku untuk pulang
ke balik malam
sampai pagi
menjelang


Menimang Cucu

Seorang perempuan renta
melantunkan senandung buaian
tak berirama

Ceracau-ceracau
bagai suara mantera di antara wangi dupa
Seorang bocah
bertelanjang dada
meringkuk
merengkuh tubuhnya berselimut kain kumal, pudar warnanya

Gigil-gigil sisa tangisan tadi malam
masih lekat di gurat-gurat wajahnya
senandung buaian masih terdengar
mengisahkan cerita yang tertunda

Ayah tiada
Bunda di Saudi Arabia
bersandar di bahu yang renta
rapuh pula
dengan buaian kehilangan irama
senandung terus terdengar
entah sampai ke lembaran berapa
mereka tak berani menerka

Medan, 11 Maret 2011


Surat Buat Sang Datu

Datu
Ini kisah seribu duka
Dari negeri bertuah
Ukiran abadi pelukis bisu
Dari awal abad dua satu

Datu
Yang kulihat sepanjang mata
biru

Berkumpul seribu pusara
tanpa batas waktu
tanpa nama
dan nisan batu

Datu
kesaksian alam
indah dalam suratan
tanpa ragu
tancapkan tonggak sejarah
sampai waktu tak berwaktu

Medan, 3 Agustus 2008


Bilang pada ibu

Bilang pada ibu aku pasti pulang
Ketika matahari pancarkan sinarnya
Dari balik perdu pohon cemara
Esok pagi

Aku ingin dengar tembang ibu
Yang sayup-sayup terdEngar lagii
Kurindu nyanyian nyiur melambai
Yang sering kau dendangkan menjelang ku terlelap

Bilang pada ibu
Esok pagi kita bersama menyusur pinggiran pantai
Menangkap benih nener masukkan dalam keranjang
Betapa asyiknya kita ketika nener berubah menjadi bandeng-bandeng liar
Di dalam kolam belakang rumah

Bilang pada ibu
Aku tak pernah lupa aroma pucuk asam jawa
Menebar ketika ditiup angin dari laut
Sesekali debur ombak memecah di pantai
Menjadi irama abadi yang sulit ku lupa

Bilang pada ibu
Meski harapan ku tak pernah sampai
Karena tsunami menghapus kenangan itu
Ia tetap lestari bersama keabadian yang pasti

Medan, 26 Maret 2011

Selasa, 19 Februari 2008

M. Raudah Jambak,


M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Beberapa kegiatan yang pernah di kuti PEKSIMINAS III di TIM Jakarta (1995), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Karyanya selain di Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar RAKYAT MERDE KA Jakarta dan Majalah SIASAH Malaysia,Majalah Horison Jakarta,Majalah Gong Jogja, BEN Jogja, Radio Nederland, Cyber sastra, Komunitas Sekolah Sumatera, RRI I Nusantara Medan, RRI Pro 2 FM, Bianglala dan surat kabar di Medan. Sering menjuarai lomba baca/cipta puisi, cerpen, dongeng, proklamasi dan juga Teater di Medan. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya jugasudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malaysia), 50 Botol Infus (Teater LKK IKIP Medan), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi puisipenyair Medan), SERATUS UNTAI BIJI TASBIH (antologi puisi bersama A.Parmonangan), OMONG-OMONG SASTRA 25 TAHUN (antologi esay), MEDITASI (antologi puisi tunggal), AMUK GELOMBANG (sejumlah puisi elegi penyair Sumatera Utara, Ragam Sunyi Tsunami (kumpulan puisi, Balai bahasa Sumut)dan Perempuan berhati gerimis .Tembang Bukit Kapur (Penerbit Escava, Jakarta, 2007), Kumpulan cerpen Ranesi (Grasindo, 2007) Medan Sastra (DKSU, 2007), Jelajah (2003), Jogja 5,9 RC (antologi Puisi Jogja, 2006), Medan Puisi (2006) Sekarang ini aktif di Sanggar GENERASI Medan. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Panca Budi,Budi Utomo dan UNIMED,serta anggota HISKI Sumut (2005-2008) . Kepala Biro Sastra Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN)Wil.Sum. Alamat kontak-Taman Budaya SumateraUtara, Jl.Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. HP. 085830805157

Nak!

Biarkan malam mengurai kelam
Atau bulan akan sampai ke pagi
Melangkah pelan melewati bintang
Demi bintang di antara senandung sepi
Perzinahan telah pula menebarkan jaringnya
Kemaksiatanmengembangkan jubahnya
Dari kamar berukuran 3x3 meter, ruang-ruang
Sidang-perkantoran, atau tempat-tempat tak
Berjejak para pejabat atau istana para penjahat, selebihnya
Para belia cukup bermain-main dengan kemaluannya
Sambil menyaksikan film ulah para dewasa
Sudahlah, Nak!
Masa depanmu masih panjang
Dan kau harus bertahan
Membendung godaan-godaan
Kejahatan tidaklah merajalela
Di kebuasan malam, diapun
Menantang di terang garang
Ada demonstrasi dari tuntutan
Turun harga sampai tuntutan turun
Tahta, berita kawin paksa atau cerai
Tiba-tiba, listrik-listrik jadi bangkai,
Aliran air tidak hanya kerontang
Di persawahan, sementara iuran
Tiap bulan wajib dibayarkan-tanpa
Potongan, semua ingin jadi atasan
Sambil mengusung proposal kemelaratan,
Banjir, longsor, transportasi ambrol
Ah, semua bencana jadi gombal
Jangan, Nak!
Kau tidak usah ikut-ikutan
Sebab, bukan untuk itu
Kau dilahirkan
Di antara pekatnya hitam pasti ada
Setitik celah putih kau temukan ,
Walau waktu selalu bercanda dengan
Tik tak tik tak jarum jam yang patah
Dan Kau, Nak!
melangkahlah dengan semangat kebenaran
sebab, pada dirimu air susu ibu telah penuh
tercurahkan, pada rahim ibu engkau telah
pula dizikirkan, dengan keajaiban do’a-do’a,
maka, restu ibu akan menguatkan hatimu
menyongsong segala zaman.

2007

Minggu, 14 Oktober 2007

Harta Pinem



Lahir di desa Juhar Kabupaten Karo Sumatera Utara, 25 Juni 1958. Pendidikan formalnya diselesaikan di FPBS IKIP Medan tahun 1987 Puisinya pernah dimuat di Suara Pembaharuan, Republika, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Solo Pos, dan Bali Pos. Sebagian di antaranya pernah diikutkan dalam sejumlah antologi seperti Mimbar Penyair Abad 21 (1996) Selain puisi ia juga menulis cerpen dan esai sastra. Salah satu puisinya :


Gebyar Suara

Untuk siapakah gebyar suara ini
Semua dihadirkan di aula Hotel Nuansa Pekanbaru
Malam kian bergemuruh
Ditambah musik karaoke di gedung sebelah
Inikah pergulan manusia menjelang maut tiba
Sementara Dita dan Widyawati asyik bicara tentang pergulatan
Hari esok
Sepulang menonton pertunjukan ABCD-nya musik masa kini
Kita tiduran di ranjang sunyi
Mengenang Chairil dan Raja Ali Haji
Gurindam itu kekasih bisakah menenangkan kita
Puisi-puisi luka itu dapatkah kita cerna lagi di sini
Kabarkanlah semua rindu ini pada Koran pagi
Aku tak punya kekuatan menahan sakit
Jika esok kita harus pulang
Semoga kenangan manis jadi ingatan sampai nanti


Medan, 2005

Sihar Ramses


(Jakarta)

Nama lengkap penulis Sihar Ramses Sakti Simatupang. Kelahiran Jakarta, 1974. Karya antologi puisi tunggalnya “Metafora Para Pendosa” (2004). Kumpulan cerpen tunggal “Narasi Seorang Pembunuh” (Dewata Publishing, 2005) dan novel “LORCA-Memoar Penjahat tak Dikenal” (Melibas, 2005).Menamatkan studi di Fakultas Sastra Universitas Airlangga. Tergabung dalam komunitas Rumpun Jerami bersama A. Badri AQT dan Jonathan Rahardjo. Kini sedang menggarap novel “Lukisan Nabilla Pasha” dan “Perempuan Yang Menyepuh Danau dengan Airmata”. Salah satu puisinya :

Kerudung Airmata

tak ada yang tahu saat bayangku menghilang
saat dibantainya matahari,
disiksanya pelangi
dan diperkosanya bumi.

rumput berteriak untukku
memberitahukan tentang tari tak jadi
Daun-daun pada gemetar
melepaskan jurai-jurai pohon
pilin demi pilin

tak ada yang tahu itu
tatkala bayangku menjadi anasir lumpur
menggali kuburnya sendiri
membuat tonggaknya di depan
hamparan kidung-kidung kematian
yang mengeras menjadi batu

: di saat itulah,
engkau muncul mengenakan kerudung airmata itu